News Update :

Kegiatan Kami

Tips Kami

Sosok

Cerita Motivasi

Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan

Jadi Mubalegh Atau Sarjana ?

Minggu, 28 Juli 2013 01.40

Bagi orang tua mungkin sebagian besar akan memilih menyekolahkan anaknya agar jadi sarjana dan lulus bisa dapat kerja. Jaman sekarang anak muda lebih memilih pendidikan bersifat dunia karena kondisi jaman semakin canggih, orang tua juga tidak ingin anaknya nanti tidak bisa dapat pekerjaan yang layak sehingga mati-matian untuk mensekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi bahkan masih kelas 1 SD di ikutkan bimbingan belajar di luar sekolah.

Sekolahan juga mengajarkan materi pelajaran full day school sehingga waktu untuk interaksi dengan orang tua ataupun untuk pendidikan agama sangat kurang. Itulah sebabnya jejaring social seperti facebook dan tweeter lebih disukai anak muda sekarang karena mudah untuk meluapkan emosinya sewaktu-waktu, karena ketika ada masalah si anak lebih enjoy curhat via social media dari pada harus bertemu orangtuanya atau menemui ustadz/mubaleghnya. Sehingga pengaruh buruk bisa mudah menjangkit anak muda sekarang.

Sedangkan jika anak di pondokkan untuk menuntut ilmu agama banyak dari orang tua berpikir buat apa di pondokkan nanti jadi mubalegh terus makan dari hasil sumbangan orang-orang atau jadi mubalegh nanti hanya seperti pembantu yang di suruh meramut masjid dll. Hidup seorang mubalegh/ustadz tidak berkecukupan, gaji tidak jelas, mau melamar cewek/cowok langsung di tanya mertua kerjanya apa mas ketika di jawab saya mubalegh, langsung mertunya bilang ” Haa..h Mubalegh !!!! ” nanti anakku di kasih makan apa ?? apa cuma di nasehati suruh sabar saja ??…

Melihat kenyataan seperti ini sangat menyedihkan, beberapa orang tua masih berpikir duniawi saja, padahal menjadi seorang mubalegh/mubaleghot adalah suatu cita-cita yang sangat luhur, bahkan Allah Berfirman ” AKu akan mengangkat derajatnya orang beriman dan orang berilmu (ulama/mubelgh) di antara kalian” .  Dari ayat ini jelas Allah lebih menyukai orang yang beriman kemudian dia juga berilmu agama. Kemudian nabi bersabda “Ilmu yang wajib dicari ada 3 yaitu Alquran Alhadist dan ilmu Faroid selain itu adalah lebihan”. Dari hadist ini jelas bahwa nabi muhammad menyuruh kita mencari ilmu agama sebagai suatu hal utama namun tidak meninggalkan ilmu dunia. Sahabat Ali berkata “Jika kalian ingin Dunia maka pelajarilah ilmu dunia, jika ingin Akhirat maka belajarlah ilmu agama dan jika ingin keduanya maka pelajarilah keduanya”. Jadi dari perkataan sahabat Ali sudah jelas bahwa orientasi kita seharusnya adalah sukses dunia dan akhirat sehingga kita wajib belajar ilmu agama dan dunia.

Ada pepatah dari ulama besar mengatakan “Siapa yang beli sapi pasti dapat tali tamparnya, tapi kalau beli tali tamparnya maka tidak akan dapat sapinya”, hewan sapi di sini di gambarkan sebagai agama dan tali tampar sebagai dunia. Jika kita belajar agama maka pasti kehidupan dunia akan ikut baik namun siapa yang hanya mengejar duniawi maka dia tidak akan dapat ilmu agama alias untuk akhirot tidak akan masuk surga karena hanya duniawi saja yang di carinya melupakan kewajibannya sebagai makhluk ciptaan Allah SWT.

sekolah-atau-mondokJadi buat anak muda sekarang dan khususnya orang tua, janganlah takut untuk menjadikan anak-anak kita seorang mubalegh/ghot atau ustadz/ustadzah. Karena barang siapa yang mempunyai anak yang solih dan berilmu agama maka besok di hari kiamat, anak kita punya hak untuk memberikan syafaat kepada ahli keluarganya dan orang tuanya akan mendapatkan mahkota yang sinarnya lebih terang dari matahari namun tidak menyakitkan.

Alangkah lebih baiknya lagi jika anak-anak kita jadi mubalegh + sarjana.

Selain ilmu agama dapat, ilmu dunia juga ada. Sekarang banyak sekali sekolah sambil mondok, bahkan yang sudah mahasiswa bisa mondok di pondok pesantren mahasiswa. Sehingga tujuan kita bisa hidup sukses dunia akhirat akan bisa tercapai. Karena orang yang sudah punya ilmu agama pasti di tolong Allah dan dia juga punya ilmu dunia sehingga tidak akan bingung mencari pekerjaan, sudah banyak cerita seorang mubalegh sukses dengan pekerjaannya karena ketika bekerja dia bisa jujur amanah, sehingga di percaya bosnya untuk menghandle perusahaan. Inilah bukti nyata bahwa seorang mubalegh tidaklah hina/rendah tapi dengan kemampuan dunia di gabungkan dengan ilmu agama hasilnya bisa luar biasa.
Ketahuilah bahwa jadi Mubalegh-mubaleghot maka kita jadi sukses dunia akhirot karena
  • ž  Penyampai ilmu Quran Hadist kepada semua umat di seluruh dunia
  • ž  Menjadi ujung tombak dan pelurunya para ulama’ dalam menjaga kemurnian ilmu QH
  • ž  Tetap mendapat aliran pahala sebab ilmunya yang bermanfaat untuk orang lain
  • ž  Ahli ilmu yang derajatnya sangat mulia di sisi Allah
  • ž  Pemberi mahkota pada orang tua dan syafaat di hari kiamat
  • ž  Pasti mendapat bermilyaran pertolongan Allah
Mondok = tidak membuat sekolah kita berantakan
Mondok = tidak membuat prestasi sekolah turun
Jadi Mubalegh – ghot = mudah mendapat pertolongan allah
Jadi Mubalegh – ghot = hidup di cukupi oleh allah
Jadi Mubalegh – ghot = doanya mustajab
Jadi Mubalegh – ghoT =  hidup bahagia dunia akhirot

SUNGGUH SANAGAT MULIANYA JADI MUBALEGH-MUBALEGHOT
SUNGGUH SANGAT BERUNTUNGNYA ORANG TUA YANG ANAK-ANAKNYA MENJADI MUBALEGH-MUBALEGHOT

Berikut ini bagi kalian yang  ingin kuliah sambil mondok tapi tetap berprestasi di kuliahannya :
  1. ž  Buat jadwal belajar dan ngaji
  2. ž  Belajar serius 100% ketika di sekolah/kuliah
  3. ž  Berusaha paham akan pelajaran saat itu juga
  4. ž  Duduk paling depan dan berhadapan dg dosen
  5. ž  Menghormati guru/dosen dan berusaha mendapatkan simpati positif darinya
  6. ž  Pilih pekerjaan yang penting dan mendesak untuk dikerjakan terlebih dahulu
  7. ž  Kerjakan tugas sekolah/kuliah sebisanya di pondok
  8. ž  Berteman dengan teman sekolah/kuliah yg pintar
  9. ž  Selalu tertib mengumpulkan tugas sekolah/kuliah walaupun blm selesai 100%
  10. ž  Aktif bertanya di kelas walaupun kita sudah paham akan pelajaran itu
  11. ž  Datang ke sekolah/kuliah tepat waktu
  12. ž  Jangan byk bergurau  dan tidur di kelas
  13. ž  Jangan byk begadang dan ngrumpi
  14. ž  Jangan byk ikut kegiatan2 di kampus yg banyak menyita waktu
  15. ž  Jangan byk nyontek dan mengandalkan hasil pekerjaan teman
  16. ž  Manfaatkan waktu istirahat sebaik2nya
CANTOLANNYA …
SINAU MEMPENG, TIRAKAT BANTER
Tips Untuk Orang Tua yang ingin punya anak solih-solikhat berprestasi :
  1. ž  Jangan menuntut dan menekan ke anak agar prestasi belajar tinggi namun tekankan bahwa pertolongan Allah segalanya.
  2. ž  Niati semua pemberian kita kepada anak ikhlas karena Allah
  3. ž  Bantu doa, sholat, puasa dll agar anak sukses dunia akhirot
  4. ž  Kegagalan dalam pendidikan bukan segala-galanya
  5. ž  Selalu berbuat baik, amar makruf, senang menolong, sodakoh agar kebaikan kita juga di waris oleh anak kita
  6. ž  Selalu support anak agar semangat mencari ilmu agama dan dunia, berikan selalu motivasi dan selalu ajak bicara agar anak merasa nyaman dan termotivasi
  7. ž  Buat sejak awal agar anak punya jiwa entengan dlm sabilillah dan bercita-cita tinggi ingin jadi mubalegh-mubaleghot sarjana
JIKA KAMU INGIN SUKSES DUNIA AKHIROT
MAKA…
CARILAH ILMU DUNIA DAN AKHIROT ITU
JANGAN PERNAH BERPIKIR
NILAI BAGUS / CUMLAUDE
ADALAH PENENTU KEBERHASILAN HIDUP KITA
INTI KEBERHASILAN HIDUP KITA DI DUNIA ADALAH ….
QODAR ALLAH dan MOTIVASI HIDUP KITA
JADI YANG PALING PENTING
PERCAYA TERHADAP PERTOLONGAN ALLAH 100%
PERTOLONGAN ALLAH ITU BAGAIKAN CERMIN
JIKA KEPERCAYAAN KITA TERHADAP PERTOLONGAN ALLAH MASIH SETENGAH-SETENGAH …
MAKA INSYALLAH KITA AKAN MENDAPATKAN PERTOLONGAN YANG SETENGAH-TENGAH JUGA
MARI SAMA-SAMA KITA BELAJAR TERHADAP PERTOLONGAN ALLAH 100%
SUNGGUH SENANGNYA JADI MUBALEGH-GHOT + SARJANA
SUNGGUH SENANGNYA PUNYA ANAK JADI MUBALEGH-GHOT + SARJANA
AMIINNNN…

Membangun Langkah Untuk Menentukan Pilihan

01.38

Di era modern ini, sudah banyak sekali perkembangan yang terjadi jika dibandingkan dengan zaman lawas. Mulai dari gaya hidup, hingga gaya berbusana, sudah banyak sekali berkembangan. Tak ketinggalan juga pilihan profesi. Sepertinya, semakin kreatif dan variatif saja pilihan profesi di Indonesia ini. Jika dulu orang yang dianggap kaya, terpandang, adalah orang yang berprofesi sebagai dokter, pejabat pemerintahan
atau wakil rakyat, kini posisi-posisi tersebut mulai disaingi dengan pekerja seni (baik seni peran, seni olah vocal, bahkan seni stand up comedy) yang kini lazim kita sebut sebagai entertainer, atau istilah yang lebih keren lagi, selebritis. Para pengusaha pun tak mau kalah, dengan makin banyaknya industri kreatif yang melahirkan produk-produk unik dan berkualitas.

Kita pasti pernah dengar contohnya seperti Kebab Turki, yang mempopulerkan makanan timur tengah tersebut menjadi tidak sekedar menu makan malam, tapi juga menjadi bagian dari gaya hidup. Ada pula kripik pedas yang mengusung tokoh fiktif ma icih sebagai ikonnya. Dari bidang jasa jual beli, mungkin bisa diwakili dengan maraknya situs jual beli online segala macam kebutuhan seperti berniaga.com, tokobagus.com, hingga rajakarcis.com yang fokus pada penjualan karcis secara on line. Rasanya, belanja menjadi sangat mudah dan dapat dilakukan dari rumah. Dan, masih banyak contoh-contoh lain. Tak heran, tokoh-tokoh yang dulu disebut wiraswastawan tersebut sering dinobatkan  sebagai orang terkaya di Indonesia. Keanekaragaman ini adalah sesuatu yang sangat baik, mengingat Indonesia sebenarnya sangat kaya dengan generasi yang dapat terus mengeksplorasi segala macam profesi secara kreatif sebagai sarana aktualisasi diri, sekaligus mengais rizki. Jika tren ini tetap berjalan, nantinya juga akan berimbas positif terhadap peningkatan kesejahteraan warga Indonesia, insyaAlloh.

Faktanya, segala potensi dan kreatifitas yang luar biasa tersebut masih belum optimal tereksploitasi. Terbukti dengan masih kurangnya jumlah wirausahawan di Indonesia. Padahal, suatu Negara dikatakan akan maju bila jumlah wirausahanya sedikitnya sebesar 2% dari jumlah seluruh penduduk. Jika penduduk Indonesia sebesar 240 juta jiwa, maka idealnya ada 4.800.000 wirausahawan. Selama ini, data yang ada dari kementrian koperasi dan UKM, wirausahawan di Indonesia baru sekitar 240.000 orang, atau sekitar 0,24% dari seluruh penduduk Indonesia. Artinya, masih banyak ruang untuk berkarya. Masih banyak kesempatan untuk mengembangkan diri. Masih ada celah untuk mengisi ceruk pasar dengan karya kita. Masih diperlukan banyak sekali wirausahawan…

Memang, menjadi wirausahawan tidak mudah karena memasuki dunia wirausaha, berarti bergelut dengan ketidak pastian. Tantangan demi tantangan akan selalu menghadang. Diperlukan rencana yang selalu berkembang secara fleksibel dan bervariasi, karena cara yang efektif dilaksanakan minggu lalu, belum tentu efektif untuk hari ini. Begitu juga strategi yang tepat sasaran hari ini, belum tentu cocok untuk minggu depan. Jadi, memang dibutuhkan keatifitas dan keuletan yang luar biasa, tanpa pernah putus. Dan yang paling penting, harus ada passion disana.

Bagi para wirausahawan sejati, justru semua tantangan itulah yang membuat menarik. Dunia yang penuh dinamika tersebut sangat cocok dan sangat dicari oleh jiwa-jiwa bebas yang tidak mau terjebak dalam zona nyaman.

So, jangan takut untuk menjadi wirausahawan. Jangan ragu untuk mengambil langkah. Ya, memulai langkah pertama untuk menjadi wirausaha memang yang paling sulit. Pasti banyak pertimbangan-pertimbangan atau pikiran bawah sadar yang “menghambat” keinginan terjun ke dunia yang penuh ketidak pastian, untuk “melindungi” diri sendiri agar tetap aman dalam zona nyaman. Takut gagal lah, tidak punya modal lah, tidak ada kepastian untung lah, hingga takut meninggalkan segala kenyamanan yang sudah ada. Semua pertimbangan tersebut memang masuk akal, dan kadang sepertinya, tidak mengambil langkah sama sekali adalah pilihan yang paling bijak.

Namun, semua anggapan tersebut mungkin dapat berubah ketika kita “nekad” dan memberanikan diri untuk mengambil langkah pertama untuk menjadi wirausahawan. Satu langkah, walaupun kecil, dapat mengantarkan kita ke dunia baru yang mengubah cara pandang kita. Dan dari langkah kecil itu, insyaalloh akan menumbuhkan gairah dan membuka kesempatan untuk langkah-langkah berikutnya. Saya tahu, saya memang belum pantas untuk bicara tentang wirausaha, karena saya sendiri belum lama berkecimpung didalamnya. Belum banyak pengalaman yang saya dapatkan, dan belum banyak “kegagalan” yang dapat memperkuat mental saya. Namun, yang bisa saya sharing hanyalah pengalaman mengambil “langkah pertama”. Saya sudah melakukannya belum lama ini dan saya memang merasa masuk ke dunia baru yang menggoda.

Saya ibarat bayi baru lahir. Masih perlu banyak belajar. Saya juga belum tahu sejauh mana saya dapat melangkah. Namun itu sudah cukup bagi saya, setidaknya untuk sementara ini. Dan saya siap untuk mengambil langkah berikutnya, insyaalloh. Jadi, beranikah anda mengambil langkah pertama? Itu pilihan anda :)

Berhentilah Mengeluh Kawan :)

Sabtu, 29 Oktober 2011 21.31

Pantaskah anda mengeluh? Padahal anda telah dikaruniai sepasang lengan yang kuat untuk mengubah dunia. Layakkah anda berkeluh kesah? Padahal anda telah dianugerahi kecerdasan yang memungkinkan anda untuk membenahi segala sesuatunya.

Apakah anda bermaksud untuk menyia-nyiakan semuanya itu? lantas menyingkirkan beban dan tanggung jawab anda? Janganlah kekuatan yang ada pada diri anda, terjungkal karena anda berkeluh kesah. Ayo tegarkan hati anda. Tegakkan bahu. Jangan biarkan semangat hilang hanya karena anda tidak tahu jawaban dari masalah anda tersebut.

Jangan biarkan kelelahan menghujamkan keunggulan kamu. Ambillah sebuah nafas dalam-dalam. Tenangkan semua alam raya yang ada dalam benak anda. Lalu temukan lagi secercah cahaya dibalik awan mendung. Dan mulailah ambil langkah baru.
Sesungguhnya, ada orang yang lebih berhak mengeluh dibanding anda. Sayangnya suara mereka parau tak terdengar, karena mereka tak sempat lagi untuk mengeluh. Beban kehidupan yang berat lebih suka mereka jalani daripada mereka sesali. Jika demikian masihkan anda lebih suka mengeluh daripada menjalani tantangan hidup ini

Salam Ayah Untuk Negeri

21.21

>Indonesia Raya… Merdeka Merdeka… Tanahku Negeriku yang kucinta… “Indonesia Raya” berkumandang lirih dari sosok renta yang berusaha menyangga satu kakinya yang cacat dengan tongkat kayu buatannya sendiri. Linangan air matanya tak menyurutkan merah putih untuk tetap berkibar dengan keangkuhannya di langit sore. Membawanya kembali ke masa lalu yang membuatnya mengejar tempat tertinggi yang disebut kebanggaan dalam membela Negerinya. Haru.

Suasana haru itu terbuyarkan seketika ketika seorang belia yang dipanggilnya Anak menurunkan tangan rentanya dari hormatnya pada Sang Saka.

“Ayah tau, apa yang Ia lakukan pada Ayah!!!…” bentak gadis itu sambil men-judge Merah Putih yang terlanjur berkibar gagah dengan satu tunjukan. Sosok renta itu hanya bisa mengizinkan air matanya berkuasa karena semua itu memang benar. Masa depannya suram seketika saat ledakan meriam 60 tahun lalu memaksa satu kakinya diamputasi, menjadikannya seorang pahlawan dulu dan seorang veteran tak dianggap sekarang. Tapi rasa cintanya pada Negerinya tak ikut hilang bersama penyesalannya dulu. Tragedi itu membuat Sang Saka semakin kuat berkibar dalam hatinya. Raut penyesalannya kembali menyeruak dan tangis tanpa suaranya semakin deras saat Gadis yang Ia panggil anak itu menurunkan Merah Putih dari singgasana kegagahan lalu membuangnya ke tanah yang basah karena hujan semalam. Sosok renta itu hanya bisa pasrah dan membiarkan putrinya berlalu dengan amarah. Susah payah Ia langkahkan satu kakinya mencoba memungut Merah Putih yang ternoda oleh rasa benci seorang anak bangsa. Ia tak benci anaknya, Ia juga tak menyalahkan negerinya… Entah.

Pagi itu, televisi menyiarkan berita duka dari Yogyakarta yang dihujani amuk Merapi tadi malam. Para korban berjatuhan karena banyak yang tak sempat menyelamatkan diri. Sekolah sontak ribut dengan berita duka dari kota sebelah. Teman-teman OSIS merencanakan untuk Bakti Sosial ke Yogyakarta dan sebagai ketua, Mira terpaksa ikut. “Tapi inget, aku ikut bukan karena aku cinta Indonesia, tapi karena aku peduli pada mereka” Penjelasan tanpa ada yang menanyakan. -_-

Hari itu, sedikit lebih pagi Mira terjaga dari lelap. Ia siapkan perbekalannya untuk ke Yogya pagi itu juga. Tak dijumpainya Sang Ayah di kursi bambu depan rumah seperti biasanya. Ia dapati ayahnya masih tertidur lelap di bilik yang tersekat bambu yang mereka sebut itu kamar. Ia hampiri ayahnya untuk berpamitan, tapi urung karena tak tega membangunkan ayahnya. Dua jam kemudian, Rombongan sekolah Mira dari Semarang memasuki kawasan redup terselimuti abu vulkanik merapi. Yogyakarta. Para pahlawan sosial beraksi. Hari demi hari mereka lewati dengan tanpa henti menolong para korban sekuat tenaga. Sudah tiga hari ini mereka berkejar-kejaran dengan Wedhus Gembel yang hampir setiap hari turun menghantui warga sekitar Merapi. Itu semua menjadi biasa saat mengingat derita para korban lebih dari ini. Hari itu hari Senin. Langit sedikit lebih cerah di lereng Merapi 20 km dari puncak. Mira dan kawan-kawan mencoba menyusuri sekolah-sekolah yang hancur berkeping-keping terbakar abu panas Merapi. Sampai suatu waktu, Nyanyian Indonesia Raya mengundang mereka untuk mendekat. Raut haru terpancar di wajah teman-teman Mira saat melihat sekitar lima anak kecil berpakaian bukan seragam sedang khidmat menghormat ke arah Merah Putih. Dua diantara mereka mengibarkan dan tiga diantaranya berdiri dengan posisi hormat dan seorang bapak muda yang mungkin gurunya berdiri di samping mereka. Mira dan kawan-kawannya hanya tertegun melihat pemandangan itu. Sampai akhirnya Indonesia Raya selesai dikumandangkan. Mira dengan langkah srantanan langsung menghampiri mereka dan bertanya mengapa. Rasa herannya memuncak kenapa masih ada orang yang cinta pada Negeri yang sedari dulu menjadi musuh di hatinya.. Dengan nada lugu dan wajah polos, mereka menjawab, “Kata Pak Guru, Indonesia yang membuat kita satu…” Ujar seorang gadis kecil dengan lugunya. “Pak Guru juga pernah bilang, Indonesialah yang menyatukan kami yang berbeda-beda dari bermacam-macam suku…” Tambah teman kecil sebelahnya. “Apa kalian ga pernah berfikir, karena lambannya Indonesia kalian jadi seperti ini…??” Lima anak tadi tak bisa menjawab pertanyaan aneh dari Mira barusan. “Ini bukan salah negeri kita!!…” Sahut Pak Guru yang sedari tadi hanya diam. Kali ini Mira yang tertegun. “Negeri kita tak pernah salah di setiap masalah, hanya oknum tak bertanggung jawab yang mengatas namakan negeri kita sebagai kambing hitam, jadi jangan pernah menyalahkan negeri kita…” Tambah guru muda itu dengan senyum bijaknya, lalu membawa murid-muridnya pergi. Sebuah pelajaran berharga tentang rasa cinta pada negeri untuk Mira. Sepanjang perjalanan pulang ke Semarang wajah Sang Ayah tiba-tiba terbayang. Muncul rasa bersalah yang sangat pada Ayah dan pada Negerinya. Mengapa selama ini Ia hanya menyalahkan tanpa berfikir siapa yang sebenarnya bersalah.

Semarang terasa hangat menyambut senyum semangat dari paras cantik Mira. Ia harap bisa bersujud memohon maaf dari ayahnya. Memeluknya dengan rasa yang sama, rasa cinta pada Negeri. Tapi tiba-tiba suram memadamkan senyuman Mira. Bendera putih berpalang merah bertahta di depan rumahnya. Dan seorang wanita sedikit gemuk tetangganya, tiba-tiba memeluknya tanpa berucap. Ayah… Lirih. Pedih. Dan apa…

Untuk putriku tersayang,
Maaf karena ayah tak pernah bisa mengajarimu untuk cinta pada Negeri… Ayah hanya bisa diam saat anak ayah sendiri memaki Negerinya sendiri… Tapi, kamu perlu tau satu hal, Hanya rasa kasih tanpa pernah membedakanlah yang selalu diajarkan Negeri kita… Dan Ayah yakin, suaru hari kau akan melihat cinta itu dengan hatimu… Dan hatimu akan membiarkan merah putih berkobar di ruang paling indah…

-Salam Perjuangan-

Ayah

Tinta hitam di atas kertas buram itu semakin lusuh oleh air mata. Aku Cinta Negeri Kita…

Itu ucapan paling diharapkan oleh ayahnya, tapi tak sekalipun pernah didengar… Tapi tak ada kata terlambat untuk mencintai negeri kita…

Dakwah Islam

Dari Kami

 

© Copyright LDII Perak - Surabaya Utara 2009 -2011 | Design by Rizky Oktavian