News Update :

Kegiatan Kami

Tips Kami

Sosok

Cerita Motivasi

Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan

Prestasi Mubalegh Sarjana, Juara II Dunia ABU Robocon Vietnam

Senin, 29 Juli 2013 09.47

Salah satu prestasi dunia membawa nama baik bangsa Indonesia menjadi juara ke-2 dalam ajang kontes robot se-asia pasific atau yang biasa disebut ABU Robocon di Hanoi – Vietnam 2007. Kontes Robot Internasional 2007 itu diikuti 19 tim dari 18 negara, seperti Vietnam (dua tim), Indonesia, China, Bangladesh, Brunei Darussalam, Mesir, Fiji, Hongkong, India, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Macau, Malaysia, Mongolia, Nepal, Arab Saudi, Sri Lanka, dan Thailand.
Hal yang membanggakan lainnya termasuk salah satu dari tim Indonesia tersebut adalah mahasiswa yang aktif dalam pengajian di LDII yang sekarang statusnya seorang mubalegh/ustadz dan berhasil menyelesaikan kuliahnya dalam waktu 4 tahun dengan IPK 35.6 cumlaude di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (PENS-ITS).

Ini menunjukkan bahwa cita-cita menjadi mubalegh sarjana tidak menghalangi kita dalam meraih prestasi nasional bahkan internasional. Prestasi akademis juga bisa di raih dengan mudah atas semua pertolongan Allah dan ikhtiar kita dalam menggapainya.

G_RUSH1 G_RUSH2

Berikut ini kisah prestasi dunia yang telah di ukir para pemuda bangsa untuk mengharumkan nama Indonesia di mata Internasional.

HANOI, Berbagai kisah menarik mengiringi keberhasilan Tim Robot G-Rush ITS menduduki posisi runner-up ABU Robocon 2007 di Hanoi, Vietnam. Mulai demam mendadak hingga menjalani puasa Daud mengiringi perjuangan mereka

Kamar nomor 305 dan 306 Hotel Nahn Klach La Than, Hanoi, menjadi saksi bisu perjuangan tim robot ITS yang berlaga di ajang Asia Pacific Broadcasting Union (ABU) Robocon 2007. Di dua kamar itulah, para  jago  robot  dari  Politeknik  Elektro  Negeri  Surabaya  (PENS)  ITS  bermarkas  selama  kompetisi berlangsung.

Menyusun strategi, berdoa, dan menghilangkan ketegangan, semua dilakukan di dua kamar tersebut. Memang  tak  semua  anggota  tim  merasa  tenang  menghadapi  pertandingan  yang  berlangsung  24-27

Agustus  itu.  Apalagi  mereka  membawa  nama  negara.  Meski  ada  yang  berusaha  menutupi  dengan bernyanyi atau mendengarkan musik, dari wajah mereka jelas terpancar ketegangan.

ldii-berprestasi

Karena itu, tak jarang mereka lebih memperbanyak ibadah. Itu pula yang dilakukan Firdaus Nurdian Syah. Daus,  sapaan akrabnya, merupakan personel yang paling rajin beribadah. Kopiah selalu nangkring di kepalanya. Selama lima hari berada di Hanoi, setidaknya dua hari digunakan Daus untuk berpuasa. “Saya selalu puasa Nabi Daud (sehari puasa sehari tidak, Red). Kesuksesan semuanya Allah yang menentukan,” kata mahasiswa yang mengaku baru pertama pergi ke luar negeri itu.

Malam pertama di Hanoi digunakan tim G-Rush untuk beradaptasi. Tim yang beranggota lima cowok, yakni  Pramudya  Airlangga, Marsudi  Handoyo,  Firdaus  Nurdian  Syah,  Andik  Hermawanto,  dan  Ali Murtadlo, tersebut berusaha rileks. Pramudya selaku ketua tim sering mengeluarkan joke-joke segar untuk menghilangkan  kepenatan  setelah  menempuh  penerbangan  selama  lima  jam.  ”Wah,  cewek  Vietnam cantik-cantik. Bisa bawa satu ke Indonesia nanti,” guraunya.

Angga juga menyempatkan berkenalan dengan tim dari negara lain. Dia yang pernah memperkuat tim Indonesia  di Malaysia tahun lalu juga bersua dengan kenalannya dari Malaysia. “Wah, ketemu lagi. Sekarang saya ketua tim,” sapa Angga kepada salah seorang personel tim dari Malaysia.

Suhu malam di Hanoi yang saat itu mencapai 27 derajat celsius membuat kelima personel kedinginan. Untuk  mengatasi hal tersebut, Ali Murtadlo makan sebanyak-banyaknya. Apalagi menu yang disajikan pihak hotel  cukup  bervariasi. “Dingin-dingin enaknya makan nasi goreng,” kata Ali yang bertampang kalem itu.

Sebelum tidur, seluruh anggota tim berdoa bersama. Setelah itu mereka salat isya berjamaah, dilanjutkan tadarus  Alquran. “Kalau secara teknologi, robot kami sudah canggih. Tapi, yang menentukan adalah Allah,” tutur Daus  yang memimpin doa bersama tersebut. Kemudian mereka langsung istirahat. Sebab, esoknya mereka harus melakukan running test.

Sabtu  pagi,  25  Agustus,  seluruh  anggota  tim  tampak  segar.  Usai  makan  pagi,  mereka  langsung mengutak-atik robot untuk persiapan running test yang dijadwalkan siang. “Pokoknya semua robot harus siap,” ujar Angga.

Persiapan menjelang running test tersebut merupakan saat-saat yang menegangkan. Tampilan robot dari negara lain sempat membuat keder tim G-Rush. “Wah, robot tim lawan sangat kukuh. Apa bisa ya kita menang?” kata Daus setengah ragu.

Menjelang running test, Daus tak pernah lepas dari robot manualnya. Dia terus mengutak-atik robot setinggi satu meter tersebut. Pria kelahiran Surabaya itu memang diberi tugas sebagai driver robot manual tim G-Rush. “Pokoknya, robotku gak boleh kalah,” tuturnya.

its-berprestasiSetelah berjuang habis-habisan, robot G-Rush akhirnya gagal menjadi juara pada ajang Asia Pacific Broadcasting Union (ABU) Robocon 2007 di Hanoi, Vietnam. Pada babak final kemarin, robot karya mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (PENS-ITS) tersebut gagal mengatasi ketangguhan wakil Tiongkok

Wartawan Jawa Pos Deddy H. Syahrul yang meliput langsung acara tersebut di Hanoi melaporkan, kekalahan dramatis itu membuat anggota tim lunglai. Tim yang terdiri atas Pramudya Airlangga, Marsudi Handoyo, Firdaus Nurdian Syah, Andik Hermawanto, dan Ali Murtadlo tersebut langsung menangis begitu robot andalannya kalah.

Menkominfo Muhammad Nuh yang sejak awal bersemangat menyaksikan jalannya final juga hanya bisa geleng-geleng kepala.

resized_200x150_Grush1Ketua tim robot, Pramudya Airlangga, menyayangkan kekalahan tersebut. Dia menilai tim juri kurang adil dalam pertandingan tersebut. Bahkan, Angga -sapaan akrab Pramudya Airlangga- sempat memprotes ketidakadilan tim juri tersebut. “Semestinya kami bisa menang,” ujarnya.

Dalam pertandingan final kemarin, robot G-Rush sempat terhalang blocker lawan dan tak bisa bergerak. Marsudi langsung meminta status retry (setting kembali) kepada juri. Tanpa alasan jelas, permintaan tersebut ditolak mentah-mentah. “Apa alasannya? Itulah yang kami protes kepada tim juri,” tegasnya.

Tak pelak, “ngadatnya” tim G-Rush tersebut membuat robot The Inspire Team dari Tiongkok leluasa menguasai arena. Tak berselang lama, robot karya mahasiswa Xian Jiaolong University tersebut mampu membentuk Victory. Kemenangan pun akhirnya melayang ke Tiongkok. “Kami memang kurang memperhatikan blocker lawan. Mestinya kami pakai strategi yang lain,” ungkap Angga.

Sebelumnya, di semifinal, Indonesia mampu menaklukkan tim Malaysia dengan skor 12-10. Tim Malaysia yang lolos ke babak semifinal setelah mengalahkan tim Jepang, tak mampu menghentikan strategi 1, 2, 3 yang diterapkan tim G-Rush. ” Strategi tersebut memang kami simpan pada babak sebelumnya,” jelasnya.

Dalam strategi tersebut, ritme laju kecepatan lawan dihitung, lantas disesuaikan gerak blocker milik G-Rush.

Optimisme tinggi sebenarnya melambung sejak babak penyisihan ketika G-Rush berhasil memecundangi wakil Bangladesh dengan skor telak, 2-0 (14-4). Dengan hanya mengandalkan tiga di antar empat robot, G-Rush langsung menyerobot dan mengubrak-ngabrik daerah pertahanan lawan. Bisa ditebak, robot Bangladesh tak mampu mengimbangi kecepatan robot G-Rush.

Memasuki babak perempat final, robot G-Rush semakin giras. Walau kekuatan baterai sempat terganggu akibat terkena air hujan, hal itu tak membuat kemampuan robot berkurang. Dengan menggunakan kecepatan penuh, G-Rush langsung memulai dengan strategi offensive. “Blocker sengaja diluncurkan agar lawan tak mampu mencapai victory,” kata Angga.

Permainan offensive yang diperagakan G-Rush ternyata membuat lawan terhenyak. Bahkan, salah satu robot milik Thailand yang dihadapi pada babak itu terpelanting karena tak mampu menjaga keseimbangan. “Ini ajang balas dendam kekalahan kami tahun lalu,” tegasnya.

Asisten Direktur III PENS ITS Tri Budi Susanto menyatakan, tim PENS ITS telah bekerja maksimal. Kekalahan tim G-Rush dalam partai final bukan semata-mata disebabkan persoalan teknologi, tapi strategi dan taktik. “Sebenarnya kemampuan robot G-Rush sudah cukup istimewa. Tim yang ada pun cukup kompak. Tapi, strategi tim, tampaknya, mampu dibaca lawan, sehingga akhirnya kami kalah,” jelasnya.

Cuaca buruk sempat membuat pertandingan yang digelar di Quan Ngua Sports Palace itu terganggu. Bahkan, jalan penghubung antara arena pertandingan dengan pit stop sempat ambruk karena dit

erjang angin. Sontak, beberapa tim, termasuk tim Indonesia, sulit membawa robot masuk ke dalam arena.

Akibatnya, Indonesia nyaris terlambat ketika bertanding melawan Thailand. “Itu juga salah satu kendala teknis yang membuat kesiapan tim G-Rush kurang maksimal,” ungkap Endra Pitowarno, dosen PENS ITS yang bertindak sebagai observer tim G-Rush.

juara aburobocon
Mengenai penyebab kekalahan, dia menilai kesalahan yang dilakukan tim adalah menggunakan strategi yang sama. Akibatnya, strategi tersebut mampu dibaca tim lawan. Padahal, sebenarnya, tim G-Rush mampu lebih cepat menguasai arena. “Selain itu, tim G-Rush kurang tenang. Emosi tim masih kurang terkontrol,” jelasnya.

Saat diwawancarai terpisah, Muhammad Nuh berjanji mengusahakan ABU Robocon 2009 bisa diselenggarakan di Indonesia. Dia yakin kegiatan tersebut tidak akan mengganggu jalannya Pemilu 2009. “Kalau India yang tidak pernah menjadi juara bisa menjadi tuan rumah pada 2008, mengapa kita tidak?” ujarnya.

Untuk diketahui, tim robot Indonesia pernah menjadi juara dalam ABU Robocon 2001 di Jepang. (dedy)

Suryo – Pelari Tercepat Se-Asia Tenggara

Rabu, 26 Oktober 2011 17.52

Salah Satu Bukti Kontribusi Warga LDII Untuk Negara Indonesia

Suryo Agung Wibowo
Suryo Agung Wibowo
Siapa nggak bangga? Sebagai anak bangsa, saya bangga sekali ketika melihat foto anak negeri terpampang di mass media. Dengan tampilan besar dan latar belakang merah putih berkibar dengan label besar, “Orang Tercepat se Asia Tenggara.” Sudah begitu, memecahkan rekor dengan medali emas untuk lari paling bergensi yaitu 100 meter putra di SEA Games XXV di Laos.
Kebanggaan itu bertambah, berlipat – lipat disertai kesyukuran yang dalam, karena tahu bahwa dia adalah salah satu warga terbaik LDII. Itulah dia Suryo Agung Wibowo. Pujian, kekaguman, penghormatan dan bonus adalah buah dari perjuangan. Tak ada yang gampang dan gratis di dunia ini. No lunch for free, kata orang sono. Semua butuh usaha dan perlu waktu yang lama untuk menekuninya. Dengan pasang  – surut, naik – turun dan beribu romantika yang telah menghadangnya. Ketika melewati rintangan terakhir, yaitu berupa garis finish: kegagalan atau keberhasilan, itulah ukurannya. Tak gampang. Dan semua itu telah dilewati Suryo dengan mulusnya. Sudah dua kali dia mendulang emas untuk bangsa ini. Dan sudah cukup dia memperoleh hasil dari jerih payahnya ini. Bukan hanya pengakuan dan penghormatan, akan tetapi lebih dari itu.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda : “ Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah dalam setiap amal kebaikan “ (Diriwayatkan oleh Muslim didalam Kitab al-Qadar, bab. Iman lil-Qadari wal-Idz’aan lahu).

Dalam era sekarang ini, setidaknya dalil di atas telah ditunjukkan oleh saudara kita. Lihatlah otot – otonya, begitu berisi. Lihatlah larinya, begitu kencang  ditopang dengan kekuatan otot – otonya. Dan secara lahir (lisanul hal) juga telah memberikan kontribusi terhadap perjuangan quran hadits ini. Mikul dhuwur mendem jero. Bahkan setiap gerak dan langkahnya membawa nama harum organisasi. Sebab khalayak mengakuinya. Dan dia pun telah membuktikannya.
Dari kekaguman bergeser ke pengakuan. Dari pengakuan bergeser ke teladan. Dari teladan berubah menjadi motivasi. Motivasi yang mampu menggiring segenap potensi generasi penerus untuk menggali potensi diri, mengembangkan dan mengoptimalkan sehingga berbuah menjadi prestasi. Sadarlah bahwa kita semua adalah orang hebat. Orang yang dicintai Allah. Orang yang mempunyai potensi besar untuk menggaet prestasi. Kita adalah garuda – garuda dalam asuhan induk ayam. Jangan sampai menjadi kerdil, menjadi seperti ayam, karena ketidakmauan kita menyelami dan menggali potensi diri bahwa kita adalah garuda.

Keberhasilan Suryo tidak diperoleh dalam sekejap. Tidak seperti membalikkan tangan. Tapi butuh perjuangan panjang. Butuh kesabaran. Butuh motivasi kuat untuk memang. Butuh pengorbanan. Survive. Berlatih sepanjang hari selama bertahun – tahun. Rutin, tanpa rasa jenuh. Jangan hanya banyak berharap tetapi tidak melakukan apa – apa. Itu namanya bohong dan hanya fatamorgana belaka.

Keberhasilan Suryo tidak boleh diiri. Jadikanlah dia motivasi.. Untuk menggali potensi diri dan menjadi mukmin yang kuat. Yang siap berjuang kapan saja. Namun jangan berkecil hati, bagi yang memang tidak diberi Allah kekuatan seperti Suryo masih banyak jalan lain menjadi mukmin yang kuat. Mukmin yang kuat – yang dimaksud dengan kuat, adalah kehendak jiwa yang kuat dan kesediaan dalam setiap perkara-perkara akhirat,  dengan demikian  seseorang yang memiliki sifat ini akan lebih gagah berani dalam menghadapi musuh dan bergegas disaat keluar dan berangkat untuk menghadapinya. Dan juga mempunyai ‘azimah (ketetapan) yang kuat dalam Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, dan bersabar dalam setiap gangguan dari setiap amalan itu, dan mampu untuk memikul segala kesulitan dalam pencapaian kepada Dzat Allah ta’ala, lebih bersungguh-sungguh dalam pengerjaan ibadah shalat, puasa, dzikir, dan ibadah-ibadah lainnya, dan lebih bersemangat dalam pencapaiannya dan penjagaannya dan lain sebagainya. (Syarh Shahih Muslim karya an-Nawawi 13 / 64, 16 / 215)

Kekuatan juga dimaksudkan disini adalah kekuatan fisik dan persiapan yang matang sebelum peperangan dengan mempersiapkan segala macam senjata yang dipergunakan dalam peperangan sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat. Dan kekuatan  inilah yang seharusnya dipersiapkan oleh kaum muslimin baik secara individu perorangan ataukah secara berkelompok dan negara, sebagai bentuk manifestasi perintah Allah ta’ala :“ Dan kalian persiapkanlah segala kekuatan yang kalian sanggup untuk menghadapi mereka “ (Surah al-Anfal : 60).

Nah, sekarang ini Suryo teleh menginspirasi kita semua untuk menjadi mukmin yang kuat. Sesuai dengan namanya, dia datang bagai sang surya menyinari dunia. JKH kawan…semoga Allah selalu paring manfaat dan barokah!
Oleh:Ustadz.Faizunal Abdillah

Hendra Syahputra – Penulis Berprestasi Internasional

17.50

Cerita Sukses Warga LDII Meraih Prestasi Internasional
Hendra Syahputra-Tokoh Berprestasi LDII

Hendra Syahputra, demikian nama seorang tokoh LDII yang bertugas sebagai Sekretaris DPD LDII Provinsi NAD ini. Beliau beberapa waktu lalu baru saja memenangkan lomba menulis dan photo Capasity Building di Daerah Konflik, yang diadakan The World Bank, Multi Donor Trush Fund, Washington DC.
Bapak yang lahir 32 tahun yang lalu di Bireun tepatnya pada tanggal 24 Oktorber 1976 ini telah memiliki 2 orang anak yaitu putra dan putri dari sang istri yang berprofesi seorang dokter yaitu dr. Sulamsih Sri Budini. Sang Istri sedang menyelesaikan pendidikan dokter spesialis sedangkan Pak Hendra tengah menyelesaikan pendidikan S3 kerjasama dengan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Semester 1 di bidang Economic Development Planning.
Beliau baru saja memenangkan Writing and Photo Competition yang diadakan oleh The World Bank dan MDF. Washington DC pada tanggal 24 Maret 2009. Beruntung redaksi berkesempatan untuk mendapatkan sedikit cerita bagaimana dia mendapatkan pengakuan dari dunia internasional melalui tulisan dan photo.
“Menulis dan membaca, sudah saya senangi sejak kecil. Tahun 2000, saya pernah memenangkan lomba menulis sastra tingkat Nasional, yang diselenggarakan Kementrian Pendidikan.”, demikian menurut beliau yang juga pernah bekerja di Majalah Gatra Jakarta dan Harian Media Indonesia Jakarta. Sebetulnya beliau mendapatkan beberapa penghargaan. Beberapa diantaranya adalah Tahun 1999 pernah memenangkan lomba membaca sastra Piala HB Jassin tingkat Nasional. Beranjak semakin dewasa, pada tahun 2002 tulisannya mengenai pergolakan dan emansipasi perempuan Aceh, memenangkan lomba menulis dan dijadikan laporan utama, ANU University, Australia, dalam bidang Perdamaian dan Resolusi Konflik.
Beliau dengan gamblang menceritakan dengan lugas bagaimana perjalanannya dari awal karir sehingga mencapai prestasi seperti sekarang.
“Tahun 2003, tulisan saya tentang Reportase Gerilya Hutan Aceh, juga masuk dalam Australia Writing. Untuk tahun 2009, yang baru saja terjadi, tulisan saya tentang “Pembangunan di daerah bekas konflik Aceh”, sekaligus photo tentang Capacity Building memenangkan writing and photo competition yang diadakan The World Bank dan MDF. Washington DC.
Ini adalah sebuah kompetisi tahunan yang di adakan The World Bank untuk umum. Saya mempersiapkan materi photo dan tilisan dengan turun ke lapangan selama 3 hari untuk melihat Object nya. Persis hari terakhir pendaftaran saya mendaftar, Alhamdulilah belum terlambat. Sebulan kemudian tepatnya Maret Lalu, saya diumumkan sebagai pemenang nya, bersama 5 pemenang lainnya. Saya tidak menyangka memenangkan tulisan dan photo ini. Bagi saya photo yang saya kirimkan sangat biasa. Namun bagi juri mungkin ada uniknya. Ada pertolongan Allah bagi saya.
Harapan saya, prestasi bisa kita toreh dimanapun, yang terpenting jangan cepat menyerah untuk mencoba. Berhasil perlu ketulusan hati untuk berjuang dan berusaha, jangan cepat lelah dan menyerah.”
Demikian apa yang beliau sampaikan kepada kami. Mudah-mudahan apa yang beliau lakukan akan memberikan inspirasi kepada kita semua untuk berbuat lebih baik lagi.

Sosok Benyamin Sueb – Orang Kampung Rejeki Kota

17.48

Sosok Sederhana Aktor Terkenal – Benyamin Sueb


benyamin
Tokoh ini sudah tidak asing lagi di tanah air, tapi sedikit orang yang tahu bila Benyamin Sueb yang biasa dipanggil bang Ben adalah seorang warga LDII yang pada akhir-akhir hayatnya aktif memberikan nasehat-nasehat kepada warga. Pada akhir khayatnya, beliau berwasiat agar kuburannya diratakan, tidak menggunung seperti gunung karena beliau tidak suka gunung katanya. Salah satu komentar dia yang menarik adalah, “Gue mabok-mabokan gak ada yang ribut, gue udah bener dan ngaji sekarang banyak yang ribut”, demikian katanya.
Benyamin yang telah empat belas kali menunaikan ibadah haji ini meninggal dunia setelah koma beberapa hari seusai main sepak bola pada tanggal 5 September 1995, akibat serangan jantung. Benyamin dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta. Ini dilakukan sesuai wasiat yang dituliskannya, agar dia dimakamkan bersebelahan dengan makam Bing Slamet yang dia anggap sebagai guru, teman, dan sosok yang sangat mempengaruhi hidupnya.
Dibawah ini adalah sedikit jalan hidupnya yang kami ambil dari wiki.
Benyamin Sueb (lahir di Kemayoran, Jakarta, 5 Maret 1939 – meninggal 5 September 1995 pada umur 56 tahun) adalah pemeran, pelawak, sutradara dan penyanyi Indonesia. Benyamin menghasilkan lebih dari 75 album musik dan 53 judul film.
Awal Karier
Kesuksesan dalam dunia musik diawali dengan bergabungnya Benyamin dengan satu grup Naga Mustika. Grup yang berdomisili di sekitar Cengkareng inilah yang kemudian mengantarkan nama Benyamin sebagai salah satu penyanyi terkenal di Indonesia.
Duet dengan Ida Royani
Selain Benyamin, kelompok musik ini juga merekrut Ida Royani untuk berduet dengan Benyamin. Dalam perkembangannya, duet Benyamin dan Ida Royani menjadi duet penyanyi paling popular pada zamannya di Indonesia. Bahkan lagu-lagu yang mereka bawakan menjadi tenar dan meraih sukses besar. Sampai-sampai Lilis Suryani salah satu penyanyi yang terkenal saat itu tersaingi.
Gambang kromong
Orkes Gambang Kromong Naga Mustika dilandasi dengan konsep musik Gambang Kromong Modern. Unsur-unsur musik modern seperti organ, gitar listrik, dan bass, dipadu dengan alat musik tradisional seperti gambang, gendang, kecrek, gong serta suling bambu.
Setelah Orde Lama tumbang, yang ditandai dengan munculnya Soeharto sebagai presiden kedua, musik Gambang Kromong semakin memperlihatkan jatidirinya. Lagu seperti Si Jampang (1969) sukses di pasaran, dilanjutkan dengan lagu Ondel-Ondel (1971).
Lagu-lagu lainnya juga mulai digemari. Tidak hanya oleh masyarakat Betawi tetapi juga Indonesia. Kompor Mleduk, Tukang Garem, dan Nyai Dasimah adalah sederetan lagunya yang laris di pasaran. Terlebih setelah Bang Ben berduet dengan Bing Slamet lewat lagu Nonton Bioskop, nama Benyamin menjadi jaminan kesuksesan lagu yang akan ia bawakan.
[sunting] Paska duet dengan Ida Royani
Setelah Ida Royani hijrah ke Malaysia tahun 1972, Bang Ben mencari pasangan duetnya. Ia menggaet Inneke Koesoemawati dan berhasil merilis beberapa album, di antaranya “Nenamu” dengan tembang andalan seperti Djanda Kembang, Semut Djepang, Sekretaris, Penganten Baru dan Pelajan Toko.
Dunia film
Lewat popularitas di dunia musik, Benyamin mendapatkan kesempatan untuk main film. Kesempatan itu tidak disia-siakan. Beberapa filmnya, seperti Banteng Betawi (1971), Biang Kerok (1972), Intan Berduri serta Si Doel Anak Betawi (1976) yang disutradari Syumanjaya, semakin mengangkat ketenarannya. Dalam Intan Berduri, Benyamin mendapatkan piala Citra sebagai Pemeran Utama Terbaik.
Akhir karier
Pada akhir hayatnya, Benyamin juga masih bersentuhan dengan dunia panggung hiburan. Selain main sinetron/film televisi (Mat Beken dan Si Doel Anak Sekolahan) ia masih merilis album terakhirnya dengan grup Rock Al-Haj bersama Keenan Nasution. Lagu seperti Biang Kerok serta Dingin-dingin menjadi andalan album tersebut.
Kontribusi terhadap gambang kromong
Dalam dunia musik, Bang Ben (begitu ia kerap disapa) adalah seorang seniman yang berjasa dalam mengembangkan seni tradisional Betawi, khususnya kesenian Gambang Kromong. Lewat kesenian itu pula nama Benyamin semakin popular. Tahun 1960, presiden pertama Indonesia, Soekarno, melarang diputarnya lagu-lagu asing di Indonesia. Pelarangan tersebut ternyata tidak menghambat karier musik Benyamin, malahan kebalikannya. Dengan kecerdikannya, Bang Ben menyuguhkan musik Gambang Kromong yang dipadu dengan unsur modern.
Untuk lebih jelasnya bisa anda lihat disini: http://id.wikipedia.org/wiki/Benyamin_Sueb

Sosok Mbah Man

Jumat, 01 Juli 2011 08.40


Bpk. Ngatemin (68 thn) dan istrinya Ibu Warsiyem asal Sragen, dua dari 4 orang pahlawan penyangga dapur Mbah Man pada periode1960-an sampai 1990-an. Keduanya saat ini memiliki 14 anak dan tinggal di desa Kademangan Kecamatan Mojoagung Jombang.
Pagi hari ketika baru keluar gerbang bandara Soekarno-Hatta saya kebingungan untuk mendapatkan angkutan umum ke hotel Ciputra. Taksi yang lewat depan loby kedatangan-pun tidak mau berhenti. Beberapa kali ke Jakarta saya masih tidak tahu caranya melanjutkan ke tempat tujuan dengan angkutan umum. Bahkan saya juga belum bisa membedakan antara  Bandara 1 dengan Bandara 2. Yang saya tahu bahwa bandara satu adalah untuk penerbangan swasta domestik sedang bandara dua milik Garuda dan penerbangan internasional.

Di tengah kebingungan sendiri tiba-tiba seseorang menyapa saya dari belakang, "mbah man!, mbah man!". Sontak saya kaget seraya tersenyum dalam hati. Setelah membalikkan badan saya lihat seorang laki-laki yang belum pernah saya kenal, bahkan namanya-pun sekarang saya sudah lupa, dan kami langsung bersalaman, berkenalan dan berbincang-bincang. Saya bersukur di tengah kesulitan ternyata ada "orang asing" yang datang membantu. Walau belum kenal, namun naluri saya yakin jelas dia adalah orang LDII, sebagaimana dia yakin bahwa saya juga "mbah Man". Kata mbah man begitu populer dan telah menjadi konsesus sekaligus identitas jamaah LDII. "Mbah Man" telah menjadi pengikat persaudaraan antara jamaah LDII sekalipun tidak saling kenal sebelumnya. Di manapun, di seluruh dunia!.

Namun siapakah Mbah Man, yang namanya sangat melegenda itu?

Mbah Man, nama aslinya adalah Sukiman kelahiran Magetan 1925. Sejak belia Sukiman telah mengabdikan diri kepada bangsa dan negara dengan menjadi pejuang gerilya, tentara rakyat sebelum akhirnya pada tahun 1957 mendapat musibah terkena ranjau ketika berdinas. Pada usia sangat muda Sukiman harus kehilangan kedua kakinya hingga lutut akibat ranjau darat yang menimpanya. Selepas pensiun dari dinas militer tahun 1961 Sukiman mengabdikan seluruh sisa hidupnya ke Sabilillah dan mendapat amal sholih memimpin dapur Pondok Burengan Kediri, yang hingga sekarang dikenal dengan dapur Mbah Man. Seluruh mubaligh dan mubalighot lulusan Pondok Burengan pasti mengenal Mbah Man karena mbah Man-lah yang "memberi makan" mereka.

Dapur adalah komponen vital dalam Pondok. Dapur adalah hidupnya Pondok Pesantren. Dengan kondisi cacat tubuh, Mbah Sukiman bersama tiga rekannya (Alm) H. Sabar, Bpk Ngatemin dan istrinya Ibu Warsiyem, dengan setia melayani dan menyediakan makan bagi ribuan santri dan puluhan tamu pondok. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan saat itu, mereka berempat harus berjuang menghidupkan tungku dapur mereka untuk terus menghidupi ribuan santri pondok. Saat ini tidak kurang dari delapan kwintal beras setiap hari dimasak di dapur Mbah Man dengan tungku raksasa, dalam tong menggunakan sekrop sebagai pengaduknya.

Suatu pagi di bulan Agustus 1988 ribuan santri Pondok Burengan meneteskan air mata mengantar kepergian Mbah Sukiman menghadap Sang Maha Pencipta. Mbah Sukiman kini telah tiada, namun "spirit Mbah Man" tidak ikut mati bahkan terus hidup berkobar menyala sampai hari ini. Mbah Man adalah sosok manusia beriman, pekerja keras yang ulet dan sabar. Mbah Man juga simbol kejujuran yang andap asor namun pemberani.

Kerjakanlah segala sesuatu secara"mbah man"-an, artinya kerjakanlah setiap pekerjaan dengan sungguh-sungguh, penuh kesabaran, secara jujur dan jangan pernah takut pada manusia karena hanya Allah-lah yang pantas ditakuti. Jiwa dan semangat Mbah Man inilah yang menurun pada ribuan santri Pondok LDII dan menjadi inspirasi bagi jutaan jamaah LDII di seluruh dunia.

Perkembangan Lembaga Dakwah Islam Indonesia yang mencengangkan banyak orang saat ini, dengan para mubaligh dan mubalighot sebagai ujung tombak penyebaran ilmu Quran Hadist, tidak terlepas dari jasa amal sholih dan jiwa perjuangan yang diwariskan oleh 4 orang pahlawan dapur Pondok Burengan termasuk seorang serdadu buntung bernama "Mbah Man".
Sumber                                                                                                                                    Penulis : Budi Waluyo, ST

Dakwah Islam

Dari Kami

 

© Copyright LDII Perak - Surabaya Utara 2009 -2011 | Design by Rizky Oktavian